Langkah Mengembangkan Integritas

Dalam berinteraksi dengan berbagai kalangan luas dalam pekerjaan, sudah pasti kita akan bertemu dengan berbagai tipe dan karakter pribadi manusia yang berbeda-beda. Ada orang-orang yang dikenal memiliki sikap jujur, bisa dipercaya dan tidak pernah mengingkari apa yang dijanjikannya. Tetapi tidak jarang kita juga bertemu dengan orang-orang yang tidak jujur, suka berbohong, seringkali tidak menepati janji dan bahkan ada yang menghianati kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Padahal sebagian dari mereka ini adalah orang-orang yang memiliki pendidikan yang baik dan bahkan mengaku sebagai seorang professional. Namun alangkah anehnya kalau seseorang yang mengaku dirinya sebagai professional, tetapi dalam kenyataannya ia tidak jujur, suka berbohong, melakukan manipulasi dan bahkan tidak bisa memegang amanah yang dipercayakan kepadanya.

Sikap tersebut adalah wujud dari cerminan rendahnya integritas pribadi seseorang. Integritas adalah kesetiaan pada prinsip atau nilai-nilai yang diyakininya. Integritas adalah perpaduan sikap komitmen, konsisten, berani dan dapat dipercaya.  Sikap seperti ini muncul dari kesadaran diri terdalam yang lahir dari suara hati. Setiap orang perlu mengembangkan integritas pribadi, agar menjadi pribadi yang dapat diandalkan. Kalau hal itu konsisten dilakukan maka akan dapat membangun integritas kelompok ataupun organisasi dimana ia berada. Pada gilirannnya akan dapat menyumbang kearah pembentukan integritas masyarakat secara luas.

Bagaimana mengembangkan integritas pribadi dalam karir ? Dalami buku “Good Ethos, 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia”, yang diterbitkan Elex Media Komputindo, saya menyampaikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengembangkan integritas pribadi Anda, diantaranya adalah:

1. Bicara sesuai kenyataan

Untuk membangun integritas pribadi dalam pekerjaan, biasakanlah selalu berbicara hanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Hindari berbohong, menutup-nutupi dari kenyataan yang ada atau mengatakan yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Memang diperlukan keberanian kita untuk mengungkapkan segala sesuatunya sesuai dengan kenyataan yang ada, terutama pada hal-hal yang bisa saja tidak mengenakkan.

2. Penuhi Sesuai Apa Yang Anda Janjikan

Orang yang memiliki integritas selalu melakukan sesuai dengan apa yang dijanjikannya. Inilah yang menjadikan Ia pribadi yang bisa diandalkan. Dengan demikian berusahalah untuk tidak mudah mengobral janji, khususnya janji yang tidak dapat Anda lakukan, agar terhindar dari tidak menepati janji. Lebih baik menjanjikan dengan apa yang bisa Anda lakukan, sehingga dapat menjadi pribadi yang selalu menepati janji.

Pribadi yang memiliki integritas ketika ia memberikan janji, ia sudah memperhitungkan hal itu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia akan bersungguh-sungguh memenuhi apa yang sudah dijanjikannya kepada orang lain. Dalam aplikasi nyata dalam pekerjaan, berarti dituntut untuk senantiasa melaksanakan sesuai dengan komitmen yang sudah disampaikan, baik dalam hubungan dengan sesama rekan kerja, kepada atasan, kepada bawahan ataupun kepada supplier dan konsumen.

3. Satunya Perkataan dan Perbuatan.

Berusaha menjaga konsistensi atara perkataan dengan perbuatan. Dengan kata lain dapat melakukan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Bila diberikan kepercayaan atau amanah dan menyanggupinya, maka berusahalah menjunjung tinggi amanah yang telah dipercayakan tersebut. Menyatukan antara perbuatan dengan perkataan merupakan karakter terpuji. Jika dilakukan secara konsisten, pada akhirnya akan memiliki karaker terpuji dalam seluruh aspek kehidupan.

Membangun integritas pribadi memerlukan komitmen pribadi untuk dapat menjaga konsistensi antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Dapat selalu menepati janji sesuai dengan apa yang disampaikannya dalam perkataan dan tindakan. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah dapat memegang teguh amanah yang dipercayakan dari orang lain. Inilah yang akan membentuk karakter pribadi terpuji. Semoga bermanfaat. Salam Good Ethos.

Integritas adalah Kekuatan

Oleh: Eko Jalu Santoso*

“Pribadi yang memiliki integritas hanyalah menginginkan tepukan halus malaikat di pundak kanannya, bukan dari manusia lainnya.  Karena ia menyadari bahwa para malaikat dan Tuhan selalu menjadi pengawasnya.”

 Shinta adalah seorang karyawati yang merintis karir di dunia asuransi. Di kalangan teman-temannya Shinta dikenal sebagai seorang pribadi yang ramah, baik hati dan jujur. Beberapa waktu lalu Shinta sedang memprospek seorang calon klien baru yang sangat potensial. Setelah melalui beberapa kali pertemuan dengan calon klien baru ini, akhirnya Shinta berhasil menutup sebuah polis asuransi dari klien baru ini.

Ketika ia mengerjakan tugas administratifnya, klien baru ini memintanya untuk mengubah tanggal berlakunya polis asuransi, supaya ia mendapatkan klaim kecil yang terjadi beberapa hari yang lalu. Mengubah tanggal itu akan membuat kliennya meraih keuntungan dan akan menyenangkan kliennya yang sangat potensial ini. Akan tetapi bagaimana dampaknya bagi Shinta ? Kalau hal itu dilakukannya, maka ia akan mengorbankan integritas pribadinya. Padahal selama ini ia telah memiliki komitmen pribadi yang diyakininya dan berjanji tidak akan melanggarkan demi apapun dan untuk siapapun. Akhirnya dengan bahasa yang sopan  dan halus, Shintapun menolak permintaan klien barunya tersebut.

Shinta akhirnya berhasil memenangkan pertempuran pribadi antara memenuhi keinginan klien potensialnya atau mempertahankan integritas pribadi yang diyakininya. Pada akhirnya, keyakinan integritas pribadinyapun berbuah manis.   Klien itu yang awalnya hanya membayar beberapa puluh juta rupiah untuk polis asuransi, tapi sejak itu akhirnya ia menghabiskan  ratusan juta rupiah dalam beberapa tahun terakhir. Mengapa demikian ? Karena kliennya dapat mempercayai integritas Shinta sebagai agen asuransinya. Ia tahu bahwa agen asuransinya memliki sesuatu yang lebih berharga daripada kekuasaan uang. Bahkan akhirnya Shinta mendapatkan beberapa klien baru lainnya berkat rekomendasi dari kliennya tersebut.

Kisah diatas adalah contoh dari kekuatan integritas pribadi dalam bekerja. Menjunjung tinggi integritas merupakan salah satu dari “Good Ethos” atau etos kerja terbaik dan mulia yang tidak bisa ditawar lagi kalau ingin meraih sukses dalam karir. Karena integritas menjadikan seseorang bisa diandalkan.

Kita seringkali mendengar kata integritas ini, tapi sebenarnya apa makna terdalam dibalik kata integritas itu? Dalam beberapa kali memberikan Training Good Ethos, saya seringkali menanyakan kepada para peserta apa itu integritas. Dan ternyata sebagian besar peserta selalu memberikan jawaban bahwa integritas itu sama dengan kejujuran. Hal ini tentu tidaklah sepenuhnya benar. Karena kalau kita memahami lebih dalam, maka sesungguhnya integritas itu berbeda dengan kejujuran. Sebagaimana disampaikan oleh Stephen R Covey, seorang motivator dan penulis kelas dunia, “Honesty is telling the truth, in other word, conforming our words to reality. Integrity is conforming to our words, in other word, keeping promise and fulfilling expectations.”

Kalau mengacu pada pernyataan Covey tersebut maka kejujuran dapat diartikan setiap kata-katanya dapat dipegang dan benar-benar dilakukannya. Sedangkan integritas lebih merupakan komitmen terhadap janji dan dapat memenuhi sesuai harapan.

Integritas dapat menjadikan seseorang berani melakukan hal-hal yang benar sesuai yang diyakininya. Pribadi yang berintegritas tidak akan mengorbankan keyakinannya hanya untuk uang, jabatan atau untuk kepentingan sesaat. Inilah yang akan melahirkan profesional yang memiliki integritas tinggi. Sebagaimana disampaikan oleh Oprah Winfrey, seorang pembawa acara talkshow yang sukses luar biasa, “integritas sejati adalah melakukan sesuatu hal yang benar, tanpa peduli orang lain mengetahuinya atau tidak.” Integritas pribadi inilah yang akan menghasilkan kepercayaan dan menjadi dasar bagi kesuksesan seseorang dalam jangka panjang.

Dalam dunia karir dan bisnis, integritras tidak diragukan lagi akan menjadi kekuatan untuk meraih prestasi tertinggi. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh James M. Kouzes dan Barry Z. Posner yang melibatkan ribuan orang dari seluruh dunia, membuktikan bahwa integritas merupakan hal penting yang harus dimiliki untuk meraih keberhasilan. Menurut Kouzes dan Posner, hampir sebagian besar responden menjawab, integritas diidentifikasi sebagai karakter yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan perilaku sehari-hari kita dalam organisasi, apakah sudah mencerminkan menjunjung tinggi nilai-nilai integritas pribadi ? Dalam bekerja misalnya, apakah selama ini kita sudah bisa memenuhi komitmen yang telah kita janjikan  ? Apakah selama ini kita sudah bisa bertindak sesuai dengan apa yang selalu kita ucapkan ? Ataukah selama ini kita masih sering berkompromi dengan nilai-nilai kebenaran yang kita yakini ?. Apakah selama ini ketika melihat ada yang salah atau melangar nilai-nilai kebenaran, kita hanya diam membiarkan saja atau berani mengingatkan hal itu salah dan harus diubah?

Setiap orang perlu membangun etos kerja jujur dan mennjujung tinggi integritas. Bukan etos kerja yang mau mengorbankan kebenaran demi mementingkan uang. Bukan etos kerja yang membohongi orang lain, asalkan meraih keuntungan. Bukan etos kerja pintar membuat alasan, karena tidak bisa memenuhi komitmen yang dijanjikan.

Kita perlu etos kerja jujur dan berani bertindak dengan integritas yang tinggi, agar dapat membangun integritas kelompok dan organisasi di mana kita berada. Kalau hal ini dilakukan, pada gilirannya akan dapat pula menyumbang kearah pembentukan integritas masyarakat secara luas. Semoga bermanfaat. Salam Good Ethos. IEJS)

Seimbangkan Usaha

Banyak diantara kita menilai keberhasilan itu,
hanya dari sisi proses usaha lahiriah semata.
Seolah kalau sudah melakukan usaha keras,
atau bekerja keras, pasti akan meraih keberhasilan.

Padahal…,
kenyataannya tidak selalu demikian,
tidak semua keberhasilan itu bisa diukur dari
proses usaha lahiriah yang terlihat semata,

Karena…,
ada banyak faktor yang diluar kemampuan kita,
ada banyak hal yang diluar kekuasaan kita,
yang mempengaruhi keberhasilan

Maka…,
Janganlah menyandarkan keberhasilan itu
hanya melalui proses usaha lahiriah semata,
jangan mengandalkan keberhasilan melalui
kerja, kerja dan kerja keras semata,

Namun…,
yang tidak kalah penting adalah
sertakan selalu ikhtiar batin melalui doa,
sertakan selalu Allah Tuhan Yang Maha Esa,
dalam setiap proses kehidupan

karena tidak ada sesuatu yang terjadi
tanpa persetujuan dan perkenan-Nya

Selamat berkarya sahabat semua,
Semoga Allah Tuhan YME memudahkan langkah kita semua.
@ekojalusantoso

Benarkah Otak Orang Indonesia Paling Mahal ?

Oleh: Eko Jalu Santoso

Judul diatas tentu menggelitik kita semua, benarkah otak orang Indonesia itu paling mahal ? Tidak percaya, mari kita ikuti kisah cerita ini. Alkisah, suatu hari di sebuah lembaga pelelangan dunia dilakukan lelang otak manusia. Yang hadir mengikuti proses lelang adalah utusan dari beberapa negara di dunia, termasuk salah satunya adalah peserta dari Indonesia. Setelah semua peserta hadir, maka proses pelelangan otak segera dimulai. Satu persatu otak dari berbagai negara ditawarkan dalam lelang tersebut. Setelah melalui proses pelalangan, ternyata otak orang Indonesia mendapatkan penawaran harga paling tinggi dibandingkan dengan otak dari beberapa orang negara maju lainnya.

Tentu saja hal ini mengundang keheranan para peserta lelang dari beberapa negara lainnya. Pertanyaan yang menggelitik adalah,  mengapa otak orang Indonesia bisa mendapatkan penawaran harga paling tinggi? Usut punya usut, setelah diselidiki ternyata alasannya adalah otak orang Indonesia dianggap masih paling mulus dibandingkan otak dari bangsa lain. Mengapa bisa demikian? Karena otak orang Indonesia dianggap jarang digunakan untuk berpikir dibandingkan dengan otak orang negara maju sudah terlalu sering digunakan untuk berpikir.

Cerita di atas tentu hanyalah sebuah anekdot atau kisah lelucon semata. Tetapi hal ini bisa menjadi sebuah sindiran bagi kita, karena memang realitasnya banyak di antara kita yang malas mendayagunakan kemampuan otaknya. Buktinya, perhatikan saat kita naik bus, kereta api atau berada di tempat-tempat umum, seperti di stasiun kereta, atau di bandara di Jakarta, misalnya. Sangat jarang kita menemukan orang-orang yang duduk sambil membaca buku. Kebanyakan lebih senang duduk mengobrol, menonton televisi atau tertidur.

Tapi coba bandingkan dengan di negara-negara maju, seperti di Jepang misalnya. Beberapa tahun lalu saat saya melakukan perjalanan ke Jepang bersama delegasi perwakilan pengusaha Indonesia atas undangan dari Asean Center di Tokyo, saat berada di dalam kereta, naik bus, ataupun di tempat-tempat umum di Tokyo seperti stasiun kereta, taman atau bandara, sangat mudah kita menemukan orang-orang yang asyik membaca buku. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat peduli untuk belajar dan terus mengasah ilmu meningkatkan ilmu pengetahuan.

Jadilah Pribadi Pembelajar

Kebanyakan orang menganggap bahwa tugas belajar menuntut ilmu sudah selesai setelah menyelesaikan pendidikan formal di sekolah atau universitas. Kemudian mereka sibuk dengan berbagai aktivitas pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, mengabaikan aktivitas belajar meningkatkan kualitas dirinya. Mereka menganggap tidak perlu lagi belajar, membaca buku, mengikuti seminar atau training untuk mengembangkan kualitas kecerdasan intelektual, emosional dan spiritualnya.

Pandangan yang demikian tentu saja tidaklah benar dan hanya akan menciptakan penjara bagi kemampuan berpikir, membuat kungkungan terhadap pengembangan nilai diri. Seperti halnya dahan pohon yang tidak pernah diberikan makanan cukup, maka lama kelamaan dahannya mengering dan tidak akan menghasilkan buah yang ranum dan siap dipetik.

Seorang futuris terkenalAlvin Toffler mengatakan bahwa “buta huruf di abad 21 bukanlah karena orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi dikarenakan mereka yang tidak bisa belajar, tidak belajar, dan tidak mempelajari kembali.” Maknanya, jelas bahwa hidup itu sesungguhnya merupakan proses pembelajaran seumur hidup. Kapanpun, dimanapun dan dalam situasi apapun, setiap pribadi dituntut untuk terus melakukan pembelajaran, kalau tidak ingin semakin tertinggal. Dengan demikian belajar, baik itu ilmu pengetahuan maupun ketrampilan memiliki peranan yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan manusia.

Good Ethos mengajarkan kita untuk menjadi pribadi pembelajar agar memiliki etos cerdas penuh kreativitas. Karena kehidupan membuktikan bahwa para professional sukses dan mulia adalah mereka yang senantiasa menyediakan diri untuk mendengar dan belajar mengasah ketajaman hati dan pikirannya disetiap kesempatan. Mereka adalah pribadi pembelajar yang tiada henti belajar dan berlatih mengembangkan kualitas dirinya. Karena dengan belajar, akan membuka cakrawala pemikiran manusia menjangkau hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kebiasaan ini dapat membentuk karakter manusia yang terus berkembang. Pengetahuan yang luas dan pengalaman yang banyak menjadikan manusia dapat memberikan kontribusi kebaikan yang lebih baik bagi dirinya dan bagi lingkungan sekelilingnya.

Bagaimana dengan Anda ? Kapan dan dimanakah terakhir kali Anda belajar ? Kalau ingin terus maju dan berkembang, rangkulah proses pembelajaran seumur hidup dan jadikan belajar sebagai sebuah personal mantra agar menjadi professional unggul berkarakter mulia. Salam Good Ethos.

Zona Nyaman

Zona nyaman atau seringkali disebut comfort zone memang tempat yang indah. Inilah tempat yang menjadi tujuan kebanyakan orang. Karena, bukankah kita semua memang menginginkan kenyamanan ? Tapi mengapa ada banyak anggapan berada dalam zona nyaman itu membuat tidak berkembang. Benarkah demikian ?

Zona nyaman sebenarnya adalah kondisi seseorang ketika telah merasa nyaman berada dalam lingkungan tertentu. Apakah itu nyaman dalam lingkungan pekerjaan atau dalam kehidupan. Dengan demikian zona nyaman setiap orang itu berbeda-beda.  Pada posisi tertentu bagi seseorang itu merupakan zona nyamannya, tetapi pada posisi yang sama mungkin bagi orang yang lainnya itu bukan zona nyaman.

Berada dalam zona nyaman memang menyenangkan. Yang menjadi masalah adalah, kalau seseorang yang telah berada dalam zona nyaman, kemudian tinggal berlama-lama dalam kenyamanannya tanpa melakukan perubahan apapun. Atau ketika berada dalam zona nyamannya, kemudian tidak memiliki keberanian mengambil resiko untuk melakukan perubahan apapun.

Inilah yang akan menjadi masalah. Karena membiarkan diri berada berlama-lama di zona nyaman tanpa perubahan apapun, itu bisa menjadi penghambat bagi pertumbuhan diri. Membiarkan diri dalam zona nyaman tanpa memiliki keberanian untuk melakukan perubahan, itu bisa menjadi penghambat bagi kemajuan. Bahkan kalau dibiarkan lama-kelamaan bisa mematikan kreativitasnya.

Bagaimana agar zona nyaman tidak menjadi penghambat kemajuan ?. Anda tidak harus meninggalkannya. Meskipun berada dalam zona nyaman, tetapi Anda tetap bisa membuat kemajuan. Caranya, saat kita sudah merasa sampai di zona nyaman, berusahalah tetap terus proaktif. Proaktif disini artinya tetap memiliki keberanian untuk melakukan perubahan dan tetap menghidupkan keberanian untuk mengambil resiko. Teruslah berusaha meningkatkan kenyamanan Anda. Teruslah berusaha memperbesar dan memperluas zona kenyamanan Anda. Dengan demikian meskipun berada dalam zona nyaman, tetapi terus memiliki kemajuan.

Kalau anda saat ini merasa nyaman sebagai karyawan, misalnya. Anda bisa meningkatkan diri menjadi karyawan yang lebih berprestasi, dengan terus proaktif memberi dan meningkatkan kontribusi, ide-ide baru dan pencapaian kinerja misalnya.  Kalau Anda nyaman dengan jabatan manajer saat ini misalnya, teruslah tingkatkan zona nyaman anda, menjadi senior manajer atau general manajer misalnya.  Teruslah belajar mengembangkan diri dengan mengikuti training, seminar, pelatihan dalam bidang pekerjaan anda agar dapat meningkatkan kemampuan diri sehingga layak meraih posisi lebih tinggi.

Kalau anda merasa nyaman sebagai pengusaha misalnya, tetaplah proaktif mengembangkan diri dengan berusaha memperbesar dan meningkatkan zona nyaman anda. Teruslah ciptakan ide-ide bisnis baru, mengembangkan produk-produk baru atau memperbesar cabang usaha anda misalnya. Kalau sekarang baru memiliki satu cabang, perluas menjadi banyak cabang misalnya. Kalau sekarang baru memiliki beberapa karyawan, tingkatkan terus usaha supaya bisa memperkerjakan lebih banyak karyawan misalnya. Inilah yang dimaksudkan terus meningkatkan, memperluas dan memperbesar zona nyaman Anda.

Bila Anda merasa di zona nyaman, kemudian berlama-lama tidak melakukan perubahan, maka bisa-bisa kedudukan Anda akan tergeser orang lain dan kenyamanan Anda akan hilang. Karena itu ketika sudah merasa sampai di zona nyaman, teruslah memelihara semangat mengembangkan diri, terus ingin memperluas, meningkatkan dan memperbesar zona kenyamanan Anda.

Selamat berkarya dan sukses selalu untuk Anda semua. @ekojalusantoso, 3 Oktober 2014.