Komunikasi Efektif

imageku3Seperti biasanya setiap hari Jumat saya menulis hal-hal yang ringan tetapi mengandung inspirasi di milis Motivasi Indonesia yang saya kelola. Milis Motivasi Indonesia ini sudah memiliki member ribuan orang yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Kali ini saya mengangkat cerita tentang seorang lelaki setengah baya yang hobbynya memelihara burung. Pada suatu pagi, semua burung kesayangannya telah hilang. Merasa si pencuri sudah keterlaluan, lelaki itu pun membawa masalah ini dalam pertemuan RT di kompleknya.
Lelaki itu  : “Siapa disini yang punya burung?”

Seluruh warga laki-laki yang hadir dalam pertemuan segera berdiri.

Menyadari kesalahannya dalam bertanya, lelaki itu menambah:
“Bukan itu maksud saya, maksud saya adalah, siapa yang pernah lihat burung?”

Maka serentak seluruh warga wanita yang hadir berdiri. Karena menyadari pertanyaannya masih tidak betul, maka dengan muka merah padam dia menyambung,
“Maaf, bukan itu maksud saya”

Sekali lagi dia coba bertanya,
“Maksud saya adalah siapa yang pernah lihat burung yang bukan miliknya”

Separuh wanita yang hadir dalam pertemuan berdiri.
Muka lelaki itu makin merah, dan juga makin gugup, segera berkata lagi,
“Maaf sekali lagi, bukan ke arah itu pertanyaan saya, maksud saya adalah, siapa yang pernah lihat burung saya?”

Lalu, Isteri lelaki itu pun pun berdiri….. dan tanpa diduga ada dua wanita lain yang hadir juga ikut berdiri………

Kali ini merah padamlah muka si isteri lelaki itu ..!!
Lelaki itu pun langsung cabut berlari meninggalkan pertemuan. Menyesalah dia telah salah bertanya………

Ilustrasi diatas memberi pelajaran berharga tentang arti pentingnya kejelasan pesan dalam berkomunikasi. Kejelasan pesan dalam berkomunikasi memiliki peran penting agar tidak menimbulkan banyak interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Seringkali kesalah pahaman itu muncul akibat dari ketidakjelasan pesan dalam berkomunikasi.

Komunikasi yang efektif itu bukan sekedar pandai berbicara, masih diperlukan ketrampilan lainnya. Dalam buku terbaru saya (buku ke-5) “Good Ethos7 Etos kerja Terbaik dan Mulia”, saya menyampaikan setidaknya ada 7 ketrampilan yang perlu diperhatikan agar dapat membangun komunikasi yang efektif. Diantaranya adalah:

·         Kejelasan pesan. Artinya diperlukan kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas dan mudah dipahami oleh orang lain. Kejelsan pesan sangat penting, sehingga tidak menimbulkan banyak interpretasi dan penafsiran yang berlainan, yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.

·         Audible atau dapat didengarkan dan dimengerti dengan baik. Artinya pesan-pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan jelas dan disampaikan dengan cara dan sikap yang dapat diterima dengan baik oleh si penemrima pesan.

·         Empathy adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri dan memahami pola pikir orang lain.Sikap emphaty memerlukan kemampuan kita untuk mau mendengarkan lebih dahulu, memahami orang lain lebih dahulu, sebelum didengarkan atau dimengerti orang lain. Steven Covey mengatakan, “ Kemampuan memahami dapat kita bangun melalui ketrampilan mendengarkan dengan baik.”

·         Humble atau rendah hati. Komunikasi yang baik dan efektif dapat dibangun dari sikap rendah hati. Ketika berkomunikasi dengan siapapun (rekan dalam perusahaan atau diluar perusahaan)Sikap rendah hati ini erat kaitannya dengan respect atau dapat menghargai orang lain. Komunikasi yang dibangun dari rasa dan sikap saling menghargai dan menghormati akan berjalan lebih baik dan efektif.

·         Dan lainnya.

Semoga Bermanfaat. Follow twitter saya: @ekojalusantoso

Waktu

Quote

“Waktu adalah aset Illahiah yang diberikan kepada semua manusia. Siapapun yang dapat mensyukurinya dengan menginvestasikan waktunya pada hal-hal positif kebaikan, sesungguhnya ia telah berinvestasi di jalan yang benar meraih keberuntungan dan kemuliaan hidupnya.” ~ Eko Jalu Santoso, buku GOOD ETHOS, halaman 234.

Setiap hari tentu banyak hal yang harus kita kerjakan. Kita boleh saja sibuk dengan mengerjakan banyak hal tersebut, tetapi satu hal yang penting jangan sampai kesibukan itu melupakan kita dari mengerjakan hal-hal yang penting dan wajib dilakukan.

Kita tentu memiliki tujuan yang ingin kita raih dalam kehidupan ini. Kita boleh saja sibuk mengejar tujuan yang ingin kita raih dalam kehidupan, tetapi jangan sampai kesibukan tersebut menjadikan kita menjauhkan dari Allah atau bahkan kehilangan hubungan dengan Allah. Karena sesungguhnya waktu yang kita miliki adalah pemberian dari Allah.

Waktu bisa menjadi asset berharga atau bisa menjadi pedang tajam yang dapat melibas siapapun yang melalikannya. Manfaatkan waktu terbaik yang kita meiliki sekarang ini. Karena sekarang inilah waktu yang benar-benar menjadi milik kita. Waktu kemarin sudah berlalu menjadi kenangan dan pelajaran berharga. Sedangkan waktu esok hari masih menjadi misteri.

Follow twitter saya: @ekojalusantoso

Berpikir Cerdas dan Kreatif

Dalam kesempatan sharing motivasi, saya memulai pembicaraan dengan sebuah cerita tentang seorang pemain golF professional. Cerita ini sudah beredar di dunia maya dan beberapa kali masuk ke email saya. Ceritanya demikian, dalam sebuah turnamen pertandingan golf di Jakarta, seorang pemain golf professional baru saja membuat sebuah pukulan yang bagus sekali, yang jatuhnya di dekat lapangan hijau.

Namun ketika ia berjalan di fairway, ternyata ia mendapati bola yang barusan dipukulnya masuk ke dalam sebuah kantong kertas bekas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?

Peraturan yang berlaku dalam turnamen tersebut adalah jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia akan terkena pukulan hukuman. Kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, tidak akan terkena hukuman, tetapi resikonya tidak akan bisa memukul dengan baik. Bahkan bisa mendapatkan skor yang lebih buruk lagi.

Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik? Apa yang harus dilakukannya?

Pertanyaan ini saya lemparkan kepada teman-teman yang hadir, “seandainya Anda diposisi sebagai pemain golf tersebut, apa pilihan yang akan Anda lakukan ?”, demikian pertanyaan saya.

Ternyata sebagian besar menjawab memilih mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, kemudian memukulkan ke lapangan hijau. Meskipun setelah itu akan menerima konsekuensi hukuman dan harus bekerja keras sampai akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi. “Resikonya lebih kecil….,” demikian menurut pendapat mereka. Dan hanya beberApa orang saja yang memberikan jawaban, memilih memukul bola bersama dengan kantong kertasnya.

Apa yang dilakukan oleh pemain professional ini ?

Ternyata ia tidak memilih salah satu di antara dua kemungkinan itu. Tiba-tiba ia mengambil korek api dari kantong celananya dan menyalakan korek api untuk membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat dan wuus, bola terpukul dan jatuh persis ke dekat lobang di lapangan hijau. Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa memukul bola dengan bagus.

Apa yang dilakukan oleh pemain golf professional ini memberikan ilustrasi bagaimana berpikir cerdas dan kreatif dalam menghadapi kesulitan.  Banyak orang ketika menghadapi kesulitan kemudian hanya menerimanya saja dan kemudian menanggung konsekuensi hukumannya. Atau mengambil resiko melakukan kesalahan bersama dengan kesulitan itu. Tetapi tidak demikian bagi mereka yang berpikir cerdas dan kreatif.  Ia akan mencari cara mengatasi kesulitannya dan baru kemudian melanjutkannya untuk meraih tujuan kemenangan.

Memasuki era “knowledge society” sekarang ini, menuntut setiap orang untuk terus mengembangkan kualitas kecerdasan dan kreativitas berpikir dalam bekerja. Pakar manajemen Charles Handy ataupun futurolog John Naisbit dan Alvin Tovler sudah meramalkan akan semakin banyak jenis pekerjaan yang mengandalkan kecerdasan otak dan kreativitas berpikir. Dalam ungkapan Charles Handy, “aset sebuah organisasi tidak lagi terletak pada properti atau benda-benda fisik lainnya tetapi pada sumber daya manusia. Dan inti dari sumber daya manusia itupun adalah kecerdasan otaknya.”

Hal yang sama disampaikan oleh Peter F. Drucker seorang pakar manajemen, memasuki abad 21 ini untuk mampu bertahan dan unggul dalam persaingan tidak cukup lagi hanya mengandalkan pengalaman dan ketrampilan yang sudah dimiliki. Diperlukan kemampuan terus meningkatkan kecerdasan otak dan kreativitas berpikir. Bagaimana meningkatkan kualitas kecerdasan dan kreatifitas ? Drucker menyarankan untuk selalu mengembangkan diri melalui tiga proses pembelajaran, yakni:

·Learn atau mau belajar tentang hal-hal baru terus menerus. Melalui seminar, training, membaca buku-buku baru dan lainnya.

 ·Re-learn artinya mau mempelajari ulang supaya lebih menguasai ilmunya.

 ·Un-learn atau meninggalkan ilmu atau cara-cara yang sudah tidak sesuai lagi.

Masih menurut Peter F. Drucker dalam bukunya The Daily Drucker, pekerja cerdas dan berpengetahuan itu cenderung untuk hidup lebih lama dari organisasi yang mempekerjakan mereka. Rata-rata masa kerja pekerja berpengetahuan cenderung sampai sekitar lima puluh tahun. Sedangkan harapan hidup dari organisasi bisnis yang sukses hanya sekitar tiga puluhan tahun.

Etos kerja terbaik dan mulia mendorong setiap orang untuk dapat bekerja cerdas dan memiliki kreativitas (kecerdasan intelektual dan emosional) agar menjadi professional unggul. Meskipun demikian, tetap diperlukan mengintegrasikan dengan kecerdasan hati nurani (kecerdasan spiritual) agar memiliki akhlak mulia. Inilah yang diharapkan dapat menjadikannya professional unggul berakhlak mulia.

Inspirasi lengkapnya bisa dibaca dalam buku terbaru saya (buku ke-5), “ GOOD ETHOS – 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia” diterbitkan Elex Media komputindo. Semoga Bermanfaat. (EJS)

 

Etos Melayani Sepenuh Hati

Udin dengan pakaiannya yang sederhana datang ke sebuah salon perawatan rambut. Karyawan salon tersebut memperlakukan12.Good Ethos dia dengan kurang baik, membasuh rambutnya dengan kasar dan memijitnya dengan terburu-buru. Anehnya, meskipun diperlakukan dengan kurang menyenangkan, Udin memberi mereka tip yang besar. Kondisi ini tentu saja membuat karyawan salon tersebut merasa sangat senang.

Beberapa hari kemudian Udin kembali berkunjung ke salon yang sama. Pada kunjungannya kali ini karyawan bersikap amat baik dan melayaninya dengan sangat baik. Tetapi kali ini Udin memberi mereka tip yang sangat sedikit. Para pelayan pun merasa terkejut dan kemudian menanyakan sebabnya.

“Untuk tips pelayanan hari ini sudah saya bayar kemarin.” Kata Udin. ”sedangkan tips yang hari ini kalian terima itu adalah untuk layanan yang kalian berikan kemarin, agar kalian sadar bahwa kalian itu orang-orang yang serakah. Mulai sekarang layanilah semua pelanggan kalian dengan sebaik mungkin”, demikianlah nasehat Udin.

Kisah Udin ini tentu saja hanyalah kisah saduran semata. Tetapi pada kenyataannya kita mungkin pernah mengalami menerima layanan yang tidak standar seperti yang dialami oleh Udin. Mungkin ketika menginap di hotel, berkunjung ke rumah makan, belanja di mall, dan lain-lainnya. Pada sisi lain, kita mungkin juga sering melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh petugas salon tersebut. Sebagai karyawan, professional, manager, pimpinan perusahaan atau jabatan lainnya, mungkin kita sering memberikan pelayanan yang tidak standar kepada customer atau pelanggan. Barangkali dalam hal kualitas, ketepatan waktu, kecepatan pengiriman dan lain sebagainya. Mungkin juga pernah membeda-bedakan pelayanan kepada customer hanya atas dasar keuntungan yang akan kita peroleh, misalnya.

Pelayanan memiliki nilai penting bagi keunggulan. Persaingan yang semakin komplek di dunia bisnis, menuntut adanya peningkatan kualitas dalam pelayanan. Setiap karyawan harus berorientasi pada “customer focus” untuk memberikan kepuasan pelanggan. Organisasi atau perusahaan yang ingin unggul dalam persaingan, tidak lagi mengizinklan seorang karyawan tidak memberikan pelayanan yang tidak standar. Karena karyawan merupakan bagian dari keunggulan organisasi atau perusahaan. Itulah pentingnya pelayanan itu datangnya dari hati. Bukank berdasarkan penampilan pelanggan atau harapan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Martin Luther King pernah mengatakan, “Semua orang bisa menjadi orang hebat karena semua orang bisa melayani. Anda tidak memerlukan ijazah perguruan tinggi untuk dapat melayani. Anda tidak perlu menimbang-nimbang dan memutuskan untuk melayani. Yang Anda butuhkan hanya hati yang penuh belas kasihan. Jiwa yang digerakkan oleh kasih.”

Kekuatan melayani sepenuh hati dalam bekerja bisa menghebatkan seseorang. Perhatikan para professional dan para pemimpin bisnis yang sukses, apa sebenarnya kunci keberhasilan mereka ? Anda akan menemukan salah satu kunci terpentingnya adalah kemampuannya mengembangkan mentalitas melayani dengan hati pada bidang profesinya.

Demikian juga dalam skala organisasi atau perusahaan, perhatikan perusahaan yang dapat maju berkembang pesat ? Apa sebenarnya kunci keunggulannya ? Salah satu kuncinya adalah dapat memberikan kepuasan pelayanan kepada para pelanggannya. Itulah mengapa banyak perusahaan yang kemudian mengangkat tema “kepuasan pelanggan.” Karena organisasi atau perusahaan yang senantiasa mau mendengarkan dan memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan, niscaya akan lebih mudah berkembang.

John Mackey, seorang pendiri Whole Food Market di Amerika Serikat mengatakan, “ Bagi kami stakeholder yang paling penting bukan pemegang saham, namun pelanggan.” Mengapa demikian ? Karena sesungguhnya kalau kita sebagai karyawan misalnya, penghasilan yang kita peroleh itu berasal dari pelanggan, bukan dari pemimpin perusahaan atau pemegang saham. Kalau kita sebagai pengusaha, sesungguhnya keuntungan yang kita peroleh asalnya dari pelanggan. Itulah mengapa kepuasan pelangganlah yang utama, sebab tidak ada pelanggan tidak ada keuntungan.

Etos melayani dengan hati tidak dapat ditawar lagi, kalau ingin berkembang dan meraih kemajuan. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan, “Anda akan mendapatkan yang terbaik dari orang lain, kalau Anda memberikan yang terbaik dari diri Anda.” Pandangan ini sesungguhnya sudah diajarkan oleh para guru spiritual kita sejak dulu. Karenanya pelayanan itu sebaiknya datangnya dari hati. Kita perlu terus belajar dan mengembangkan etos melayani dengan hati. Inspirasi lengkapnya bisa dibaca di buku terbaru saya (buku ke-5), “GOOD ETHOS – 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia” diterbitkan Elex Media Komputindo. Semoga bermanfaat. (Follow Twitter saya: @ekojalusantoso )

Menyederhanakan Pikiran

Seorang kawan saya ketika menemui kesulitan atau masalah (baik dalam pekerjaan dan keidupan), dia cenderung mendekatinya dengan jalan pikiran yang rumit dan analisa yang njlimet. Ketika bicara kesulitan atau masalah yang dihadapinya, bisa menjadi berjam-jam seperti tidak ada selesainya. Jadilah pikirannya hanya dipenuhi masalah dan kesulitan. Akibatnya alam pikiran bawah sadarnya memproses tentang masalah dan kesulitan saja, tanpa menemukan solusinya. Kemudian ia mengatakan pekerjaan ini penuh dengan masalah…hidup ini memang berat…dunia ini penuh dengan kesulitan….dan lainnya.

Setiap orang hidup tentu memiliki masalah. Demikian halnya dalam pekerjaan, setiap orang yang bekerja pasti akan menemui berbagai kesulitan dan masalah. Tetapi setiap orang bisa berbeda-beda dalam cara pandang dan menyelesaikan masalahnya. Tidak semua orang memiliki kemampuan memetakan masalahnya dengan baik, sehingga mampu mengubah masalah yang rumit menjadi lebih ringan. Bahkan tidak sedikit yang berpikir njlimet, sehingga malahan mengubah masalah yang tadinya ringan menjadi lebih rumit, seperti kawan saya tersebut diatas.

Kali ini saya ingin mengangkat sebuah cerita sederhana, yang dapat menjadi inspirasi dalam bagaimana memetakan masalah dan menyederhanakan solusinya. Ceritanya demikian, dikisahkan para astronot pernah mendapat kesulitan atau masalah ketika hendak menulis laporan di stasiun ruang angkasa mereka. Pulpen yang mereka pakai untuk menulis ternyata tidak bisa digunakan karena terpengaruh oleh gaya gravitasi yang o (zero), sehingga tintanya menjadi macet.

Menemui masalah seperti ini, kemudian para ahli melakukan penelitian untuk menemukan sebuah pulpen yang anti gravitasi. Setelah melalui penelitian yang panjang dan menghabiskan biaya jutaan US dolar, akhirnya berhasil ditemukan sebuah pulpen yang anti gravitasi sehingga bisa dipakai diluar angkasa.

Lalu apakah para kosmonot juga menemui kesulitan atau masalah yang sama seperti ini ? Apa yang dilakukan oleh para kosmonot terhadap permasalahan yang sama seperti ini ? Ternyata mereka tidak perlu melakukan penelitian yang panjang untuk mengatasi masalah ini. Mereka cukup dengan tidak menggunakan pulpen, tetapi memilih mengganti memakai pensil.

Ya, ilustrasi diatas mungkin bukan cerita yang nyata,melainkan hanyalah gambaran bahwa tanpa kita sadari seringkali kita memaksa otak  atau pikiran untuk berpikir berlebih-lebihan dalam menyelesaikan suatu masalah. Kita sering menganggap setiap kesulitan atau masalah itu hanya bisa diselesaikan cara-cara yang penuh pemikiran, analisa-analisa yang panjang , penelitian mendalam dan perhitungan-perhitungan yang matang. Padahal tidak selalu demikian. Memang ada masalahj dan kesulitan yang memerlukan analisa dna pehitungan yang matang. Tetapi tidak sedikit masalah atau kesulitan yang terlihat rumit, kadang bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan-pendekatan yang sederhana dan praktis.

Sebagaimana digambarkan dalam ilustrasi cerita diatas, terhadap suatu permasalahan yang sama, ada yang harus mengeluarkan biaya yang besar dan berpikir njlimet untuk menemukan solusinya. Tetapi disisi lain, sebenarnya ada cara sederhana untuk menemukan solusinya.

Ketika menemui kesulitan atau masalah, sederhanakan cara pandang kita terhadap kesulitan atau masalah tersebut. Bukan menggampangkan atau mengecilkan masalah, melainkan menyederhanakan cara pandang kita terhadap masalah. Alihkan fokus pikiran kita bukan pada besarnya kesulitan atau masalahnya, melainkan pada solusi atau “outcome” yang kita harapkan. Dengan demikian, diharapkan sebesar apapun atau sesulit apapun masalah yang kita hadapi tidak akan membebani dan meruwetkan otak kita untuk mencari jalan keluarnya. Semoga Bermanfaat. (EJS).

*) Eko Jalu Santoso adalah penulis 5 buku motivasi (The Art of Life Revolution, Heart Revolution, The Wisdom of Business, Life Balance Ways dan buku terbaru adalah GOOD ETHOS – 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia).

 

SEMINAR GOOD ETHOS (INHOUSE)

SEMINAR GOOD ETHOS (INHOUSE)

7 ETOS KERJA TERBAIK DAN MULIA

TUJUAN

Membantu peserta dapat memaknai kerja lebih tinggi dan mulia, serta dapat menerapkan etos kerja terbaik dan mulia dalam aktivitas sehari-hari.

LATAR BELAKANG

Kemajuan seorang individu dalam bekerja dan berkarya sangat dipengaruhi oleh etos kerja dan kualitas pribadinya. Sedangkan kemajuan sebuah organisasi atau perusahaan sangat dipengaruhi oleh etos kerja anggota organisasi dan kualitas para pemimpinnya. Dengan demikian, etos kerja tidak diragukan lagi memiliki peran sangat penting baik bagi kemajuan pribadi, organisasi, dan bahkan bagi bangsa dalam arti luas.

Pertanyaannya adalah, dari puluhan juta angkatan kerja di Indonesia saat ini, berapa banyakkah yang sudah memiliki etos kerja terbaik dan mulia? Berapa banyakkah para profesional dan kaum pekerja yang mengutamakan nilai-nilai spiritualitas, budi, moralitas, etika, dan akhlak mulia dalam bekerja?

Faktanya, mudah kita temukan kaum pekerja dan profesional yang dalam menjalankan pekerjaannya mengabaikan nilai-nilai etika, budi, moralitas dan spiritualitas, seperti:

  • Bekerja tidak jujur dan kurang memiliki integritas
  • Kebiasaan mementingkan diri sendiri atau egoisme tinggi
  • Tidak memahami nilai-nilai mulia dari pekerjaannya
  • Motivasi rendah dan kebiasaan tidak disiplin
  • Suka main terabas dan serakah mengabaikan nilai-nilai etika
  • Berkurangnya semangat melayani dengan hati

MANFAAT MENGIKUTI PELATIHAN

Dengan mengikuti Seminar GOOD ETHOS ini, diharapkan peserta akan mampu:

  • Memahami makna luhur kerja sebagai panggilan hidup mulia yang dapat memberikan keuntungan dan kebahagiaan dunia dan akherat.
  • Menjadikan pekerjaan bukan sekedar meraih penghasilan dan keuntungan, tetapi dapat menjadi ladang amal kebaikan dan bernilai ibadah
  • Memahami dan mampu mengembangkan tujuh etos kerja terbaik dan mulia dalam diri, yakni etos kerja yang dilandasi ilmu pengetahuan, akhlak, budi, etika, moralitas dan nilai-nilai spiritualitas.

METODE PENYAMPAIAN

Presentasi efektif dan menarik melalui dukungan multimedia, kuis dan game dengan partisipasi peserta.

MATERI PEMBAHASAN

Bersumber dari buku GOOD ETHOS – 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia, karya Eko Jalu Santoso dan diterbitkan PT Elex Media Komputindo :

  • Motivasi dan Etos Kerja Terbaik dan Mulia
  • Karakteristik Profesional Unggul dan Berkarakter Mulia
  • Membudayakan 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia
  • Etos 1. Bekerja Jujur Memiliki Integritas
  • Etos 2. Bekerja Cerdas Memiliki Kreativitas
  • Etos 3. Bekerja Empati Penuh Peduli
  • Etos 4. Bekerja Ikhlas Penuh Kecintaan
  • Etos 5. Bekerja Berpikiran Maju atau Visioner
  • Etos 6. Bekerja Mengutamakan Kerjasama/Sinergisme
  • Etos 7: Bekerja Disiplin Penuh Tanggung Jawab

WAKTU PELAKSANAAN

Inhouse Seminar/presentasi sekitar 3-4 jam (setengah hari)

 

 

Hindari Kebiasaan BEJ

KEBIASAAN BEJ

12.Good EthosMendengar kata BEJ saya yakin kebanyakan orang akan berpikir singkatan dari Bursa Efek Jakarta. Tetapi BEJ yang saya maksudkan dalam tulisan ini bukanlah itu, melainkan kebiasaan Blame, Excuses dan Justify yang banyak menghinggapi orang sehingga menghambat kemajuan dirinya.

Apa itu kebiasaan BEJ : Blame, Excuses dan Justify dan mengapa kebiasaan ini dapat menghambat kemajuan seseorang ?  Marilah kita bahas satu persatu kebiasaan ini.

Kebiasaan pertama, Blame atau blaming adalah kebiasaan menyalahkan orang lain, keadaan atau lingkungan sekitarnya. Di dunia kerja, menyalahkan kebijakan perusahaan, menyalahkan manajemen, menyalahkan produk, menyalahkan fasilitas, menyalahkan atasan atau bawahan dan lainnya.

Ketika menjadi manajer misalnya dan target yang ditetapkan tidak tercapai, dengan mudahnya melemparkan kesalahannya pada anggota tim atau anak buahnya. Bahkan ada yang lebih parah sampai berani menyalahkan Tuhan, “Tuhan tidak adil pada saya.” Padahal, kalau mau jujur, sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas kesalahan itu ya dirinya sendiri.

Kebiasaan menyalahkan orang lain itu tanda rendahnya rasa tanggungjawab pribadi. Kebiasaan seperti ini tidak menjadikan kita belajar bertanggungjawab untuk mengatasi masalah. Karena pada setiap masalah yang timbul  tidak mau melihat kelemahan diri, tetapi melihat kesalahan orang lain. Kebiasaan seperti ini harus segera dihentikan.  Kalau tidak, semakin lama kita tidak akan semakin maju, karena tidak pernah mau belajar dari setiap kesalahan.

Kebiasaan kedua adalah Excuses, yakni selalu mencari-cari alasan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini sangat kreatif dan pandai dalam menciptakan alasan-alasan untuk menutupi kegagalannya. Mulai dari alasan-alasan klasik seperti tidak memiliki modal, kurangnya dukungan, tidak memiliki fasilitas cukup dan segudang alasan lainnya. Ketika target pekerjaan tidak tercapai misalnya, bukannya sibuk memikirkan bagaimana mencari solusinya, melainkan mereka sibuk mencai-cari alasannya. Menjadi kreatif itu memang baik, tetapi jangan menjadi kreatif dalam mencari-cari alasan.

“ Berani mengakui kesalahan dengan kerendah hati, tanpa menyalahkan orang lain, mencari-cari alasan atau mencari-cari pembenaran adalah sikap yang terpuji.”

Kebiasaan ketiga adalah Justify, artinya mencari pembenaran-pembenaran atas kesalahan yang telah dilakukan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini cenderung melihat sesuatu dari sudut pandangnya sendiri saja. Selalu merasa benar dengan alasan yang disampaikanya. Ketika melakukan kesalahan, dengan mudahnya ia berkata, “ah, sekali-kali salah nggak apa-apa, orang lain lebih sering.” Atau ketika melakukan kesalahan, kata-kata yang diucapkannya adalah, “saya kan manusia biasa, jadi ya wajarlah kalau ada salah.” Kebiasaan seperti ini sebaiknya segera dihentikan dan tidak dibiarkan terus menerus dilakukan, kalau ingin meraih kemajuan menjadi lebih baik.

Banyak orang yang terjangkit kebiasaan BEJ seperti tersebut diatas, akhirnya mereka terhambat dalam meraih kemajuan karier dan kehidupannya. Bila kita ingin terus bertumbuh menjadi professional unggul yang berkarakter mulia, segera tinggalkan kebiasaan BEJ ini. Lebih baik membudayakan Etos Kerja Terbaik dan Mulia dalam diri. Lebih lengkapnya, bacalah buku GOOD ETHOS: 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia, karya Eko Jalu Santoso, yang diterbitkan Elex Media Komputindo. Marilah introspeksi diri, kalau merasa sudah terjangkit kebiasaan ini, ya segera berusaha menghentikannya. Semoga Bermanfaat !

Salam Good Ethos  !

Eko Jalu Santoso| Penulis 5 Buku Motivasi| Pembicara Inspirasti| Founder Motivasi Indonesia| Follow twitter: @ekojalusantoso

Good Ethos: Kecakapan Empati

12.Good Ethos”Berempatilah agar lebih memahami perasaan, pikiran dan kepentingan orang lain. Bersimpatilah agar lebih peka dan peduli membantu kesulitan orang lain.”

~Buku Good Ethos, halaman 101.

Salah satu ciri pribadi ber-etos kerja terbaik dan mulia adalah memiliki kecakapan empati dan penuh peduli. Mereka tidak bekerja demi kepuasan diri sendiri saja tanpa memiliki kepedulian pada lingkungannya. Tetapi mereka bekerja penuh empati dan memiliki kepeduliaan pada sekitarnya, seperti orang-orang dalam lingkungan kerjanya, masyarakat luas dan lainnya.

Apa sesungguhnya kecakapan empati itu ? Sederhananya adalah kemampuan seseorang dalam mendengar, melihat dan memahami pikiran dan perasaan dari sudut pandang orang lain, lalu mengomunikasikan pemahamannya tersebut melalui ucapan, kata dan tindakan.

Apa sebenarnya manfaat kecakapan empati ? Hasil penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari tujuh ribu orang Amerika Serikat dan 18 negara-negara lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Daniel Golemenmenyatakan bahwa “kecakapan empati” atau kemampuan membaca perasaan orang lain memiliki manfaat menjadikan seseorang lebih pandai menyesuaikan  diri secara emosional, lebih popular, lebih peka dan lebih mudah bergaul dengan orang lain. Unsur- unsur ini yang akan semakin menghidupkan energi positif yang terpancar melalui ucapan dan tindakan, sehingga pada akhirnya dapat menunjang keberhasilan seseorang dalam pekerjaan dan kehidupan.

Kapasitas untuk menunjukkan sikap empati merupakan kualitas intrinsik seseorang. Beberapa orang memiliki kapasitas empati yang lebih dibandingkan lainnya, sehingga lebih mudah mengembangkannya. Meskipun demikian setiap orang dapat mengembangkan derajat kecakapan empati yang diperlukan dalam bekerja dan kehidupannya.

Bagaimana meningkatkan kecakapan empati dalam bekerja ? Salah satu prasyarat penting dalam mengembangkan kecakapan empati adalah memiliki kemampuan mendengarkan untuk mengerti terlebih dahulu, sebelum ingin didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Itulah mengapa Stephen Covey seorang penulis dan motivator kelas dunia, secara khusus menaruh kemampuan mendengarkan sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan manusia yang sangat efektif, yaitu kebiasaan untuk mengerti terlebih dahulu, baru dimengerti.

Selain kemampuan mendengar, masih ada beberapa tips penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam upaya konsisten meningkatkan kecakapan empati, sebagaimana dibahas dalam buku terbaru karya Eko Jalu Santoso, “Good Ethos, 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia,” diterbitkan Elex Media Komputindo (Kompas Gramedia Group), tebal 264 halaman, terbit bulan Januari 2013. Selamat membaca dan menemukan inspirasinya.

Salam Good Ethos |Eko Jalu Santoso| Follow twitter: @ekojalusantoso

Good Ethos: Prestasi Tertinggi

 14.Good EthosGood Ethos : Prestasi Tertinggi

“Prestasi tertinggi bukanlah di mata manusia, melainkan di mata Allah Swt. Ketika seseorang bekerja berorientasi prestasi tertinggi di mata Allah Swt., niscaya apa yang dilakukannya akan mendapatkan keuntungan dunia dan akherat.” ~ Buku Good Ethos, halaman 161.

Era materialisme dan tuntutan hidup sekarang ini, seringkali menjadikan banyak orang bekerja sibuk dengan tujuan jangka pendek. Mereka sibuk mengejar ambisi meraih prestasi keberhasilan duniawi, seperti jabatan, kekayaan, popularitas dan lainnya. Kondisi demikian,  memaksa banyak orang mencari jalan-jalan alternatif dan kadangkala sampai melupakan nilai-nilai spiritualitas, keimanan dan tujuan kehidupan jangka panjang. Kita lupa bahwa prestasi sesungguhnya bukanlah dihadapan manusia, melainkan derajat prestasi tertinggi sesungguhnya adalah di mata Allah SWT. Prestasi di mata Allah adalah prestasi tertinggi yang melebihi segala-galanya.

Apalah artinya sebuah prestasi di mata manusia, yang hanya akan mendapatkan keuntungan di dunia semata yang waktunya hanya sesaat. Apalah artinya sebuah prestasi professional cemerlang di mata manusia, kalau hal itu harus diraih dengan mengorbankan nilai-nilai etika dan keimanan. Banyak bukti pada akhirnya hanya akan berakhir dengan kesia-siaan. Padahal, kalau kita menginginkan prestasi di mata Allah, niscaya kita akan mendapatkan semuanya, baik keuntungan di dunia maupun keuntungan di akhirat. Karena, hasil pekerjaan kita akan dilihat Allah Swt. dan rasulnya serta akan dirasakan oleh orang-orang yang beriman.

Mereka yang menempatkan objek atau subjek yang dikejar dalam bekerja hanyalah jangka pendek (tujuan keberhasilan duniawi sesaat), seringkali akan menemukan kesia-siaan. Mereka akan menjadi mudah berputus asa ketika tidak mendapatkannya. Tetapi tidak demikian bagi pribadi yang ber-etos kerja terbaik dan mulia. Mereka bekerja bukan hanya berorientasi kepentingan jangka pendek, tetapi untuk kehidupan jangka panjang. Mereka bekerja bukan hanya untuk mendapatkan prestasi dihadapan manusia, tetapi mereka berorientasi prestasi tertinggi adalah di mata Allah Swt. Pada akhirnya mereka akan mendapatkan keberhasilan dan kebahagiaan jangka panjang, karena orientasi pekerjaannya hanyalah untuk mengharapkan ridha Allah Swt.

Bagaimana bekerja berorientasi prestasi dihadapan Allah Swt. bacalah buku terbaru saya “Good Ethos: 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia”, diterbitkan Elex Media komputindo, tebal 264 halaman, terbit 14 Januari 2013 di Gramedia seluruh Indonesia. Selamat membaca dan menemukan inspirasinya.

Salam Good Ethos !

Eko Jalu Santoso | Penulis Buku Good Ethos: 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia, Elex Media komputindo

Follow twitter : @ekojalusantoso