Coffeelosophy

Coffeelosophy # 1

Jangan memandang kopi dari keindahan cangkirnya, tapi utamakan isi kopinya. Karena kopi yang nikmat itu tidak selalu disajikan dalam cangkir yang indah.

Demikian halnya dengan hidup, jangan memandang hidup dengan mengutamakan bungkusnya, tapi utamakan isinya. Hidup di dunia itu bungkusnya, tapi amal kebaikan untuk bekal akherat itu isinya.

Sibukkanlah dirimu untuk duniamu, tapi tetaplah sibukkan hatimu untuk Allah.

Coffeelosophy # 2

Untuk menikmati keharuman aroma kopi, biji kopi yang keras perlu dilarutkan ke dalam air panas mendidih, sehingga larut menghasilkan aroma kopi yang nikmat.

Demikian halnya dalam hidup, terkadang harus melewati tempaan kesulitan dan tantangan (ibarat air mendidih). Hadapi tempaan dan kesulitan itu, agar menjadikan keharuman diri (kehebatan diri). Seperti biji kopi yang justru akan menghasilkan aroma air kopi yg nikmat.

Coffeelosophy # 3

Secangkir kopi hangat akan terasa lebih nikmat, kalau kita meminumnya seteguk demi seteguk, bukan dengan menenggaknya sekali teguk.

Demikian halnya dengan kehidupan, nikmati setiap proses perjalanan kehidupan setahap demi setahap dengan bahagia. Jangan menunggu sukses baru merasa bahagia, tetapi nikmati dengan bahagia setiap proses kemajuan sedikit demi sedikit, karena bahagia itulah yang akan menjadikan sukses.

Selamat menikmati kopi. @ekojalusantoso

Kita tidak dapat memperpanjang waktu

Ketika berkumpul dengan murid-muridnya, Imam Ghozali mengajukan pertanyaan berikut ini, “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?”. Murid -muridnya ada yang menjawab langit, bintang-bintang, dasar lautan, matahari dan lainnya. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar adanya. Tapi ada jawaban yang paling benar adalah “masa lalu”. Dengan kendaraan apapun dan melalui cara apapun, tetap kita tidak bisa kembali menjangkau ke masa lalu.

Sahabat professional mulia, begitulah masa lalu adalah hal yang paling jauh dari diri kita dan tak akan mungkin kita bisa meraihnya kembali. Oleh karena itu, tinggalkan masa lalu dan berfokuslah pada masa kini. Kita harus menjaga masa kini dan memanfaatkan kesempatan waktu yang kita miliki saat ini, agar kelak bisa mengenang masa lalu dengan tersenyum bangga. Kita perlu menjaga hari ini dan mengoptimalkan setiap kesempatan hari ini untuk kebaikan dan kemanfaatan, agar meraih masa depan yang lebih baik.Karena apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi penentu bagi masa depan.

Seperti setangkai bunga mawar yang sedang mekar di taman, yang tanpa keraguan dia membagikan keharuman wangi bunganya bagi siapa saja yang mendekatinya. Karena  dia sadar dirinya hanya punya kendali atas waktunya saat ini dan tak punya kendali kapan waktunya layu. Maka tanpa keraguan dia membagikan keharumannya selagi bunganya mekar mewangi. Demikian halnya dengan waktu kehidupan yang kita miliki. Selain tak bisa menjangkau kembali masa lalu, kitapun juga tidak punya kendali atas waktu di masa-masa mendatang.

Bersyukurlah bagi mereka yang menyadari akan hal itu, kemudian dapat memanfaatkan waktunya saat ini untuk hal-hal kebaikan. Menggunakan waktunya saat ini untuk berbagi kemanfaatan. Mengoptimalkan waktunya untuk mempersiapkan pundi-pundi yang akan menjadi bekal bagi kehidupan di masa mendatang. Ingatlah kita tidak bisa mengulang waktu ataupun memperpanjang waktu. Seperti nasehat yang disampaikan oleh Kahlil Gibran, “Memberilah selagi musimnya memberi ada disini, sehingga pundi-pundimu tidak kosong ketika kau meninggal.”

Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan (fokus 10 hari terakhir ramadhan).

Kerendahan Hati adalah Kekuatan

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Seorang pimprendah hatiinan perusahaan yang akan berpindah tugas di tempat lain mengadakan acara perpisahan dengan mengundang seluruh karyawan di kantor perusahaan tersebut. Setelah selesai menyampaikan sambutan perpisahannya, selanjutnya giliran para karyawan yang diminta mengucapkan pesan dan kesannya. Para manajer satu persatu bergantian menyampaikan pesan dan kesannya terhadap pimpinan tersebut. Tiba-tiba ada seorang office boy yang memberanikan diri ke depan dan menyampaikan pesan dan kesannya kepada pimpinannya tersebut. Office boy ini berkata, ”saya berterima kasih kepada bapak yang selalu mengatakan minta tolong ketika meminta saya melakukan sesuatu yang menjadi tugas saya. Bapak juga selalu mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil yang saya lakukan. Padahal bapak adalah pimpinan tertinggi di kantor ini, namun saya sebagai karyawan bawahan merasa sangat dihargai. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih atas kepemimpinan bapak yang sangat menghargai kami sebagai bawahan.”

Sahabat professional mulia, demikianlah sikap rendah hati seorang pimpinan akan selalu dikenang di hati para bawahannya. Sayangnya, dewasa ini semakin sulit menemukan orang-orang yang memiliki sikap rendah hati seperti ini. Yang mudah ditemukan justru sikap sebaliknya, yakni menonjolkan sikap egoisme dan kesombongan. Yang seringkali dipertontonkan oleh patra pimpinan dewasa ini justru sikap, “akulah yang paling hebat dan kalian tidak ada apa-apanya.” Inilah contoh sikap egoisme dan kesombongan yang banyak menguasai manusia modern dewasa ini. Hal ini bisa terlihat dari berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, seperti banyak orang yang tersinggung sedikit saja menjadi mudah mengamuk, atau merasa harga dirinya tersentuh sedikit saja kemudian menjadi sangat emosi, tersinggung luar biasa dan lain sebagainya.

Padahal kita tahu rendah hati merupakan salah satu sifat mulia yang diajarkan oleh para Nabi. Kerendahan hati merupakan etos mulia yang penting dalam membangun karakter pribadi mulia. Kerendahan hati adalah kekuatan yang sangat diperlukan bagi kesuksesan. Bersama-sama dengan sifat-sifat mulia lainnya seperti kejujuran, integritas, keikhlasan, rasa syukur dan lainnya, merupakan bagian penting yang membentuk karakter pribadi mulia seseorang. Kerendahan hati juga merupakan cerminan dari tingginya kecerdasan spiritual seseorang. Seseorang yang memiliki sifat rendah hati, ia memiliki kesadaran yang tinggi akan posisi dirinya. Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah sebagai “hamba” atau “abdi” dari Allah Tuhan YME. Kesadaran inilah yang menjadikan seseorang tidak berlaku sombong, serakah dan tinggi hati. Karena menyadari tidak ada yang pantas disombongkan dari dirinya.

Sebagian orang mempersepsikan rendah hati sebagai bentuk rendah diri. Padahal keduanya jelas sangat berbeda. Misalnya, ketika seorang pimpinan meminta pendapat dari anak buahnya mengenai presentasi yang baru saja disampaikannya misalnya, itu bukan berarti bahwa ia rendah diri atau menyangsikan kemampuannya,  Demikian juga seorang pembicara setelah selesai meminta pendapat dari pendengarnya misalnya, itu juga bukan berarti ia rendah diri atau kurang percaya diri atas kemampuannya. Itu menunjukkan krendahan hati, dalam rangka bisa melihat diri secara objective. Sehingga dapat memberikan penialain pada diri sendiri secara benar. Sebagai seorang pemimpin kita harus jujur melihat diri sendiri, bisa memberi penilaian yang seimbang dan penilain yang fair terhadap dirinya.

Sikap rendah hati merupakan unsur penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang efektif. Inilah etos kerja terbaik dan mulia yang harus dimiliki dalam diri setiap pemimpin. Hal ini telah dibuktikan oleh riset yang dilakukan oleh Jim Collins,  seorang penulis buku laris Good to Great, yang menyampaikan bahwa pemimpin yang sejati adalah mereka yang menyadari batas-batas kelemahan dirinya dan berani mengakui kelemahannya itu. Menyadari akan batas-batas kelemahan diri serta berani mengakui kelemahannya, itulah ciri dari sikap rendah hati. Seperti halnya ilmu padi, semakin berisi maka akan semakin merunduk. Para pemimpin yang rendah hati sangat menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu tiada batasnya.

Dalam dunia karier dan bisnis, kerendahan hati menjadi kekuatan pendorong bagi sukses dan kemuliaan.  Hal ini telah dibuktikan oleh hasil riset yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Ludeman terhadap 800-an manajer perusahaan. Salah satu kesimpulan dari hasil riset yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun tersebut adalah bahwa para pemimpin, para manager yang berhasil membawa perusahaan atau organisasinya ke puncak kesuksesan, ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki integritas, mampu menerima kritik, memiliki sikap rendah hati, dan mengenal dirinya dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa mereka para pemimpin, manager yang meraih kesuksesan ini ternyata adalah manusia-manusia yang memiliki sifat rendah hati.

Pribadi yang rendah hati adalah pribadi yang dapat menghargai orang lain dan memandang bahwa orang lain sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan. Mereka adalah pribadi yang senantiasa membuat orang lain merasa penting dan dihargai. Mereka mampu mengutamakan kepentingan yang lebih besar dari kepentingan dirinya. Mereka memiliki hati yang terbuka terhadap berbagai masukan, kritikan dan memiliki kesediaan untuk banyak berbagi dengan sesamanya. Mereka adalah pribadi menyadari siapa posisi dirinya, menyadari kelemahan dirinya dan berani mengakui kelemahannya dihadapan orang lain.

Kita perlu belajar rendah hati dan terus mengembangkan etos rendah hati dalam bekerja. Karena Allah mengasihi orang yang rendah hati dan membenci orang-orang yang sombong. Sikap rendah hati juga mengundang simpati dan dukungan dari sesama, sebagai modal penting bagi keberhasilan. Karenanya kalau ingin meraih sukses dan kemuliaan dalam karir, bisnis dan kehidupan, pertahankan sikap rendah hati. Semoga Bermanfaat. Salam Good Ethos !

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos- 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia dan pembicara inspiratif professional. Follow twitternya: @ekojalusantoso  web: www.ekojalusantoso.com

BerFokus pada Kekuatan

Oleh: Eko Jalu Santoso*

Beberapa hari lalu saya menerima BBM dari seorang teman yang isinya demikian, “Mas Eko, saya memiliki atasan yang selalu hanya melihat sisi negatif kita. Kalau kita melakukan kesalahan kecil saja, pasti akan marah dan mengeksplorasi kesalahan kita. Alih-alih membatasi pembicaraan pada kesalahan saat ini, malahan mengungkit-ungkit kesalahan-kesalahan yang lainnya. Saya sudah berusaha supaya tetap positif, tapi lama-lama kepala jadi agak pening nih..ha..ha..ha…menahan diri mas.” Demikianlah salah satu keluhan yang saya terima memalui BBM.

Sebagian orang ada yang memiliki kecenderungan memusatkan perhatian pada kekurangan orang lain. Kalau kebetulan ia menjadi atasan atau manajer misalnya, biasanya akan mudah marah ketika menemukan kesalahan yang dilakukan oleh anak buahnya. Bagi mereka, inilah saat yang tepat untuk menumpahkan kemarahan. Bahkan satu kesalahan kecil saja misalnya, bisa jadi akan ditarik ulur menjadi masalah besar. Akibatnya hal-hal positif bawahan, seperti prestasi, kekuatan maupun kelebihan anak buahnya akan tenggelam tidak terlihat, karena tertutupi oleh kesalahan. Ibarat orang yang melihat sebuah kain putih, ketika ia hanya berfokus pada satu noktah kecil di atas kain putih tersebut, akibatnya ia mengabaikan keseluruhan kain yang notabene putih bersih tersebut.

Setiap orang tentu memiliki kelemahan, kekurangan atau ketidaksempurnaan. Itu pasti karena kita memang manusia. Bukankah hanya Tuhan yang memiliki kesempurnaan. Karena itu kalau kita lebih berfokus pada kelemahan orang lain, kita hanya akan menghabiskan waktu untuk membahas kelemahan-kelemahan tersebut. Kalau kita hanya berfokus pada sisi negatif atau kesalahan orang lain, maka tidak akan ada kemajuan, karena tidak dapat melihat nilai lebih orang lain. Maka ubahlah fokus kita bukan melihat pada sisi negatifnya, melainkan berfokus pada sisi positifnya.

Perhatikan para professional sukses, pemimpin yang efektif, maupun para pengusaha sukses, mereka bukanlah orang yang berfokus pada kelemahan atau kekurangan orang lain, melainkan orang-orang yang selalu berfokus pada sisi kelebihan orang lain. Mereka adalah pribadi yang lebih memusatkan perhatiannya pada kekuatan orang lain. Memusatkan perhatiannya pada hal-hal positif dan kelebihan yang dimiliki oleh anggota timnya. Kemudian mereka mampu memberdayakan nilai lebih atau kekuatan yang dimiliki anggota tim dalam organisasinya untuk mencapai tujuan organisasinya.

Karena itu berfokus pada kekuatan atau nilai lebih menjadi prinsip yang mesti ditegakkan, kalau kita ingin meraih sukses dalam karir dan bisnis. Karena dengan berfokus pada nilai lebih dan kekuatan, menjadikan Anda dapat memperoleh kontribusi terbaik dari seseorang. Sebagaimana disampaikan oleh Peter Drucker, seorang guru manajemen kelas dunia yang mengatakan, ““Seseorang seharusnya tidak ditempatkan di posisi manajerial jika visinya berfokus pada kelemahan anak buahnya dan bukan pada kekuatan mereka.” Jelaslah bahwa untuk menjadi seorang manajer yang hebat, professional yang unggul atau pemimpin yang efektif seseorang harus memusatkan perhatian pada sisi positif dan kelebihan orang lain. Mampu melihat nilai lebih orang lain, menyerap nilai lebih dan kekuatannya, serta mampu menyatukannya sehingga memiliki daya yang hebat untuk mencapai tujuan.

Salah satu kunci keberhasilan menjadi seorang pemimpin yang efektif adalah adalah membuat nilai lebih yang dimiliki setiap anggota timnya menjadi suatu kekuatan yang efektif untuk mencapai tujuan.”

Pertanyaannya, bagaimana agar kita dapat memusatkan perhatian pada sisi positif atau kekuatan seseorang ? Salah satu kuncinya adalah dengan membangun konsep diri positif. Membangun konsep diri positif artinya selalu berusaha mengarahkan hati, pikiran, sikap dan tindakan selalu ke arah sisi positif. Memandang banyak hal yang datang dalam kehidupan melalui sikap positif. Kebiasaan inilah yang dapat membentuk karakter pribadi positif, sehingga mampu selalu berfokus pada sisi positif orang lain, bukan pada sisi kekurangannya.

Sebuah nasehat bijak mengatakan : “Jadilah engkau seperti lebah yang hanya mengambil kebaikan dari sari-sari bunga dan meninggalkan keburukan-keburukan.” Demikianlah pribadi yang memiliki konsep diri positif akan memusatkan perhatian pada sisi kebaikan orang lain, bukan pada keburukan dan kekurangannya. Dengan berfokus pada kekuatan atau nilai lebih seseorang, akan menjadikan kelemahan dan kekurangan yang ada menjadi tidak relevan lagi. Pada akhirnya kita akan mendapatkan kontribusi terbaik dari seseorang. Semoga bermanfaat.

*) Eko Jalu Santoso adalah seorang professional, penulis buku Good Ethos – 7 Etos Kerja Terbaik dan Mulia dan pembicara inspiratif professional. Follow twitter: @ekojalusantoso

Miliki Konsep Diri Positif

Saya mengenal seorang teman yang energik dan memiliki semangat positif. Dia selalu memiliki hal-hal positif untuk dikatakan kepada orang lain. Sebagai seorang kepala cabang sebuah bank swasta nasional, dia pernah ditempatkan di beberapa cabang di beberapa kota. Di setiap cabang dia diterima dengan baik oleh para karyawan, serta mendapatkan dukungan positif dari teman-temannya. Hasilnya setiap cabang yang dipimpinnya selalu meraih prestasi kinerja yang baik.

Saya penasaran dengan sikapnya yang selalu positif ini. Suatu saat ketika berbincang dengannya saya sempat menanyakan kepadanya, “Saya salut lho sama kamu, selalu semangat positif setiap hari. Bagaimana kamu dapat melakukan hal itu ?.” Teman saya inipun menjawab, “Ah itu sederhana saja…setiap pagi ketika bangun, aku selalu berkata pada diri sendiri, aku punya dua pilihan hari ini. Apakah aku akan memilih dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang buruk. Dan aku selalu memutuskan untuk memilih dalam suasana yang baik.”

Sahabat profesional yang baik, setiap hari kita itu menerima lebih dari 60,000 pikiran yang masuk dalam diri kita. Itu menurut Jack Canfield dan Mark Victor Hansen dalam The Aladdin Factor sebagaimana ditulis oleh Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya Terapi Berpikir Positif. Begitu banyaknya pikiran yang berseliweran masuk setiap harinya ke dalam diri kita, sehingga diperlukan kepandaian kita untuk menyikapi dan menyaringnya. Ketika kita berorientasi positif, itu akan sangat memengaruhi keputusan kita untuk hanya memilih hal-hal positif yang datang dalam diri kita. Demikian sebaliknya, ketika seseorang berorientasi negatif, maka akan memengaruhi pilihan-pilihan negatif yang datang dalam dirinya. Inilah hukum akal bawah sadar, bahwa hukum akal bawah sadar membuat pikiran tertentu menyebar.

Setiap hal yang datang dalam diri kita tidak akan memiliki arti sama sekali sampai kita memberinya makna. Semua itu akan menjadi berarti positif atau negatif, sesungguhnya kita sendiri yang menentukannya. Kalau demikian, agar selalu dapat memberi makna positif pada hal-hal yang datang dalam diri kita, kuncinya milikilah konsep diri positif.

Konsep diri positif merupakan sebuah sistem operasi yang mempengaruhi mental dan kemampuan berpikir positif seseorang. Konsep ini dapat masuk kedalam pikiran seseorang dan mempunyai bobot pengaruh yang besar terhadap kemampuan seseorang mempersepsikan setiap keadaan yang datang dalam kehidupannya. Semakin positif konsep diri seseorang maka akan semakin mudah mengarahkan perasaan dan pikirannya selalu kearah positif. Menangkap dan mempersepsikan setiap keadaan yang datang dengan pandangan positif. Demikian pula sebaliknya.

Pribadi yang memiliki konsep diri positif, pembicaraannya selalu baik, kata-katanya positif, santun dan mengandung kebaikan bagi orang lain. Senantiasa menghindari prasangka negatif dan tidak menyakiti hati orang lain. Setiap kehadirannya mengirimkan getaran-getaran positif bagi lingkungan sekelilingnya, sehingga mengaktifkan dunia sekelilingnya menjadi positif juga. Pada akhirnya cenderung menarik hasil yang positif juga.

Pribadi positif memiliki keyakinan tinggi dan tidak akan mudah menyerah menghadapi kesulitan. Ia memberi usahanya perawatan dengan keyakinan positif dan tindakan yang positif. Hasilnya ia bisa karena ia berpikir bisa dan yakin bisa.

Memiliki konsep diri positif dapat mempengaruhi pola pikir, sikap dan tindakan seseorang dalam kehidupannya. Inilah yang dapat membentuk karakter pribadi positif yang menjadi modal bagi kesuksesan karir, bisnis dan kehidupan. Nah, bagaimana dengan Anda?. Pilihannya ditentukan oleh diri Anda sendiri. (Eko Jalu Santoso | @ekojalusantoso)